|
|
Language
DOCTOR OF THE WEEK
 |
Prof. DR. Dr. A. Harryanto R., SpPD KHOM
Office
Sub bagian Hematologi-Onkologi Medik Bagian Ilmu Penyakit
Dalam FKUI/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo
Telp/Fax: 021 – 3926286 / 021 – 3142697
E-mail: homfkui@hotmail.com
Private Hospital
RS. MMC
Jl. HR. Rasuna Said Kuningan
Jakarta Selatan
Klinik Amanda
Jl. Yusuf Adiwinata No. 39
Menteng Jakarta Pusat
Telp. 323543 |
Prof Dr Arry Harryanto
Reksodiputro
Bekerja dengan Kepekaan Sosial
Konsisten dalam prinsip, teguh dalam
keyakinan agama, namun tetap menyadari
adanya kelemahan sebagai manusia. Itulah
potret pribadi Prof. Dr. dr. Arry Harryanto
Reksodiputro. Bagi mantan anggotaTim Dokter
Ahli Presiden RI, ini hidup adalah tantangan
dan agama adalah modal untuk menghadapi
tantangan itu. Ia seorang dokter yang
memiliki kepekaan sosial cukup tinggi dan
menganut prinsip bekerja untuk kepentingan
masyarakat.
Prinsip, iman dan kesadaran itulah yang
menuntun Kasubag Hematologi-Onkologi Medis,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran, Universitas Indonesia (FK-UI),
Jakarta, ini bahwa bekerja adalah untuk
kepentingan masyarakat.
Dalam pembentukan jiwanya, yang selalu
berusaha agar setiap pekerjaannya
betul-betul menyentuh kepentingan masyarakat
dan bermanfaat bagi kepentingan umum, banyak
didorong tuntunan ayahnya Mr.Sumitro
Reksodiputro yang berasal dari Rembang,
Jateng dan ibunya dan Siti Djaenab yang
berasal dari Sumedang.
Sejak kecil, pria yang dilahirkan di Malang,
28 Januari 1939, ini telah dituntun
ayah-bundanya agar menjadi anak yang taat
beragama, tidak menyombongkan diri, selalu
peduli dengan sesama dan menghargai orang
lain. Hal itu terbawa hingga di hari tuanya
yang dalam segala sendi kehidupannya selalu
mengedepankan nilai-nilai agama dan
kemanusiaan. Sampai-sampai dalam memilih
olah raga dan musik sekalipun selalu dengan
pertimbangan tersebut.
Peraih Doktor bidang Ilmu Kedokteran dari
FK-UI, Jakarta pada 21 Juli 1984, ini tidak
pernah lupa berolahraga. Baginya,
berolahraga jauh lebih penting dari hanya
sekedar hoby dan prestasi saja, karena
dengan berolahraga manusia akan sehat dan
rileks. Apalagi di dalam olah raga itu
terselip nilai-nilai sportivitas, sehingga
orang yang suka berolahraga dengan
sendirinya akan selalu berusaha menghargai
orang lain. "Kalau bisa, berolahragalah
sekali atau dua kali seminggu," anjurnya.
Dokter yang semasa kecilnya bersekolah di
Sekolah Rakyat (SR) Cikini ini punya
kepekaan sosial yang cukup tinggi sehingga
dengan segala upaya dia berusaha untuk tidak
membuat batas-batas di antara sesama. Banyak
jembatan yang mesti ia titi untuk mengenal
lebih jauh tentang pandangan hidup
bermasyarakat. Salah satu contoh, dalam
memilih olahraga dia tidak mau memilih
olahraga eksklusif yang bisa membuat dirinya
malah jadi jauh dari masyarakat banyak.
Maka dengan maksud agar bisa selalu
berinteraksi dengan masyarakat banyak
tersebut sekaligus menghemat biaya maka dia
memilih olahraga jogging dan renang sebagai
olahraga rutinitasnya setiap minggu. "Dengan
olahraga yang sederhana itu, kita bisa
bertemu dengan masyarakat awam dan tidak
mahal-mahal," katanya sambil tersenyum.
Dalam hal musik, pecinta musik klasik ini
berpandangan bahwa musik merupakan salah
satu sarana komunikasi universal untuk
mendeteksi pandangan hidup seseorang atau
sekelompok orang. Menurutnya, musik
merupakan pantulan dari perasaan masyarakat
yang diwujudkan dalam bentuk irama dengan
bantuan sejumlah alat. "Kalau kita
mendengarkan musik orang barat, kita akan
bisa menggambarkan pola hidup mereka. Begitu
pula pandangan hidup mereka," tuturnya. Dia
bisa mengikuti dan memahami sekian banyak
jenis musik, seperti musik Dangdut, Melayu,
Pop, Cadas maupun Klasik.
Namun, pria berkaca mata yang selalu
menekankan perlunya disiplin ini, memilih
musik klasik sebagai musik kesenangannya.
Karena menurutnya, musik klasik itu
berdimensi kemanusiaan.
Suami dari Anggraeni Suryanatamiharja ini
selalu berusaha menempatkan diri agar bisa
bergaul dengan masyarakat awam maupun di
tengah keluarga. Namun tentu dia juga selalu
berusaha agar tidak terjerumus kepada
penyimpangan norma-norma masyarakat.
Dia tidak mudah kehilangan kendali hidup,
berkat telah mendapat pengajaran norma-norma
agama Islam yang dianut dan dipegangnya
teguh sejak dini. Dengan pemahaman agama
tersebut juga ia bisa mengetahui batas
norma-norma hidup yang dijalankannya.
"Hidup adalah tantangan. Agama, modal untuk
menghadapi tantangan itu. Dan tanpa agama,
kita tidak bisa mensyukuri nikmat Tuhan."
ujarnya. Dengan keyakinan itu, ia tidak mau
melepaskan diri dari ikatan agama yang sudah
menjadi pedoman hidupnya. Pedoman hidup yang
membuat kesehariannya selalu tampil tenang
dan tegar.
Ketika mengikuti pendidikan Hematologi di
Hospital St. Louis, L Universite de Paris,
Perancis dan mengikuti pelatihan
(postgraduate training) di St. Bartholomew's
Hospital, London, Inggris, dan pelatihan di
Hospital Pitie-Salpetriere, Paris, Perancis,
dia melihat semua orang bekerja keras,
masing-masing tahu akan kewajiban mereka.
Selama mengikuti pendidikan itu, mereka
dituntut mampu memecahkan segala masalah.
Karena itulah, menurutnya, orang-orang yang
pernah belajar di sana akan terlatih membuat
keputusan. “Kalau mau belajar, harus tahu di
mana tempatnya, bagaimana membagi waktu dan
bagaimana mencari ilmu. Itu semua kita cari
sendiri. Belajar sendiri," katanya
menerangkan.
Selain kemandirian, mereka juga selalu
didorong untuk berani menyatakan pendapat.
"Kita harus berani menyatakan pendapat.
Kalau memang kita salah, kita harus berani
mengakui bahwa itu salah," tuturnya. Di situ
jugalah, menurutnya, pentingnya berolahraga.
Sebab berolah raga bukan saja berolah fisik
tetapi juga berolah hati nurani.
Dikatakannya, berbeda pandangan hal biasa.
Perbedaan pandangan itu terjadi karena
kapasitas setiap manusia tidaklah sama,
karenanya beda padangan itu sudah menjadi
bagian dari hidup. Tetapi hasil pemikiran
bersama, justru akan menghasilkan pemikiran
atau konsep yang berbobot. Disitulah
pentingnya menghargai pendapat orang lain,
sambil mempertimbangkannya dengan pendapat
sendiri.
Pengagum Mantan Presiden AS John F. Kennedy,
dan Proklamator RI Bung Karno - Bung Hatta
dan pemimpin India Jawaharlal Nehru, ini
sangat konsisten dalam pendirian terutama
dalam mendudukkan prinsip kemanusiaan sama
seperti tokoh-tokoh yang dikaguminya
tersebut. la juga mengagumi tokoh-tokoh dari
kalangan kedokteran seperti, Prof. Sutomo
Tjokronegoro, Prof. Djuned Pusponegoro serta
Prof. Slamet Imam Santoso.
Sikap kemandirian dan kekonsistenannya itu
terbina sejak dia masih berumur 8 tahun.
Ketika zaman revolusi, ia dan kakaknya
dibawa ayahnya mengungsi ke kota Gudeg,
sedangkan ibu dan adik-adiknya tetap
bermukim di Jakarta. Ketika di Yogyakarta
itu ia tidak mengetahui kalau ayahnya
diculik tentara Belanda. Selama ayahnya
diculik, ia tinggal bersama kakeknya di
Malang.
Tempaan demi tempaan semasa revolusi,
menyebabkan Harryanto kecil menjadi tegar
dan kuat. Setelah dua tahun tinggal bersama
kakeknya di Malang, ia kembali ke Jakarta.
Di sekolahnya pun, di SR Cikini, Jakarta,
berkali-kali ia mesti masuk lubang
perlindungan, setiap ada bunyi sirene
pertanda adanya serangan dari tentara
sekutu. “Kalau ada perang, saya dan
kawan-kawan masuk dalam lubang perlindungan
sambil menggigit karet,” kenangnya.
Pria yang bergaya hidup sederhana ini ketika
sekolah di SMA I, Jakarta, 1953-1956, lebih
suka bersepeda ke sekolah, padahal dia
sebetulnya termasuk salah seorang yang
beruntung sebab ayahnya menjabat sebagai
Sekjen Departemen P & K ketika itu yang bisa
membelikannya motor atau mengantar
jemputnya.
"Sebagai teman yang sama-sama seperjuangan,
sama-sama pelajar, kami ramai-ramai naik
sepeda. Itulah kenangan saya semasa di SMA,"
tuturnya mengenang masa remajanya. Setelah
menamatkan SMA, dia kemudian masuk Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1956,
yang diselesaikannya tahun 1963.
Sebagai penerima beasiswa, ia harus
mengikuti ikatan dinas selama 6 tahun
sebagai pegawai negeri sambil mendalami
spesialis di bidang ilmu penyakit dalam
tahun 1963-1969. Setelah bertugas selama
enam tahun di Pekan Baru, pada tahun 1969
dia mendalami masalah darah selama setahun
di Hospital St. Louis, L’Universite de
Paris, Perancis, 1969-1970. Delapan tahun
kemudian, tepatnya pada tahun 1978, dia
mengikuti pelatihan di St. Bartholomew's
Hospital, London. Setahun setelah itu, dia
mengikuti lagi pelatihan di Hospital
Pitie-Salpetriere, Paris, Perancis.
Pada tanggal 21 Juli 1984, dia meraih gelar
doktor dalam bidang ilmu kedokteran dengan
tesis yang berjudul: "Limfoma Non-Hodgkin
dan Saran Mengenai Alternatif
Penatalaksanannya di Indonesia".
Selanjutnya, pada 14 Desember 1991, ia
mengucapkan pidato guru besar dengan judul:
"Onkologi Medis Masa Lampau, Kini dan Masa
Mendatang: Peranannya dalam Menunjang
Strategi Penanggulangan Kanker secara
Terpadu". Di dalam Tim Dokter Ahli Presiden
RI, dia diangkat sebagai ahli penyakit
dalam.
Alumni Anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta
(IMADA) ini, mengemukakan ketika masalah
AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome)
menghantui masyarakat pada dekade 80-an, dia
juga sibuk menekuni penyakit yang melemahkan
sistem kekebalan tubuh itu.
Menurutnya, sekarang ini masyarakat masih
sering salah persepsi dimana dokter yang
tidak menggunakan peralatan canggih,
langsung dianggap dokter yang kurang piawai.
Padahal, banyak sekali penyakit yang
diderita pasien tidak memerlukan peralatan
kedokteran yang canggih. Sebetulnya,
menurutnya, sekitar 75 persen penyakit masih
bisa dideteksi dengan stetoskop saja.
Sisanya, baru perlu peralatan atau
obat-obatan yang mewah. “Sering masyarakat
meminta diobati dengan alat-alat yang
canggih. Di sinilah perlunya pendidikan
masyarakat," katanya.
Menurut ayah dari Drs. Dharmawan
Reksodiputro, Anggia Arifiati Reksodiputro,
dan Mirta Hediyati Reksodiputro ini, seorang
dokter yang profesional adalah dokter yang
mampu menggunakan peralatan yang tepat guna.
Yang penting perlu standarisasi pengobatan
yang cocok dengan keadaan di Indonesia.
Masyarakat awam juga perlu mengetahui
pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan
untuk setiap jenis penyakit serta manfaat
pemeriksaan tersebut.
Yang menjadi masalah sekarang adalah standar
itu belum ada. Akibatnya, banyak dokter yang
kadangkala lebih suka menggunakan peralatan
canggih padahal tidak semua penyakit
memerlukan peralatan yang modern. Hal ini
bisa terjadi, karena tuntutan pasiennya atau
keinginan dokternya itu sendiri. Tidak
heran, kalau kemudian biaya pengobatan di
sini semakin mahal.
Sumber: *** TokohIndonesia DotCom
(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Nama:
Prof Dr.dr.Arry Harryanto Reksodiputro
Lahir:
Malang, 28 Januari 1939
Agama:
Islam
Profesi:
Dokter Ahli Penyakit dalam
Istri:
Anggraeni Suryanatamiharja
Anak:
Drs. Dharmawan Reksodiputro,
Anggia Arifiati Reksodiputro,
Mirta Hediyati Reksodiputro
Ayah:
Mr. Sumitro Reksodiputro
Ibu:
Siti Djaenab
Pendidikan:
- 1944-1950: Sekolah Rakyat Cikini di
Jakarta
- 1950-1953: SMP I di Jakarta
- 1953-1956: SMA I di Jakarta
- 1956-1963: Dokter, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta
- 1963-1969: Dokter Ahli Penyakit
Dalam, FK-UI di Jakarta
- 1969-1970: Pendidikan Hematologi di
Hospital St. Louis, L' Universite de
Paris di Perancis
- 1978: Postgraduate training di St.
Bartholomew's Hospital di London
- 1979: Postgraduate Training di
Hopital Pitie Salpetriere di Paris
- 21 Juli 1984: Doktor dalam Ilmu
Kedokteran pada Universitas Indonesia,
Tesis: "Limfoma Non-Hodgkin dan Saran
Mengenai Alternatif Penatalaksanaannya
di Indonesia".
- Desember 1991: Dikukuhkan sebagai
Guru Besar di FK-UI
Pengalaman Kerja:
- Memberi Kuliah Hematologi Kepada
Mahasiswa Tk.III dan IV FK-UI tahun 1971
– sekarang
- Membimbing Karya Tulis Mahasiswa Tk.
V FK-UI tahun 1972
- Penguji Pendamping Pada Ujian NB/CMS
FK-UI, 1973 – 1976
- Penguji Ujian NB/CMS FK-UI, 1982
- Koordinator Penatalaksanaan Penyakit
Limfoma Malignum FK-UI RSCM 1974 –
sekarang
- Anggota Tim Kanker RSCM, 1975
- Staf Pengajar pada The Regional
Graduate Diploma Applied
- Anggota Unit Kanker FK-UI/RSCM, 1976
- National Faculty Member pada UICC
Postgraduate Course on Clinical Cancer
Chemotherapy tanggal 4- 5 Mei 1981
- Kasubag. Hematologi Bag. I Penyakit
Dalam FK-UI/RSCM, 1984 – sekarang
- Koordinator Penelitian di Bag. I
Penyakit Dalam FK-UI, 1985
- Ketua Kelompok Studi Khusus AIDS di
FK-UI, 1986
- Ketua Tim Transplantasi Sumsum
Tulang FK-UI, 1986
- Wk. Ketua Urusan Onkologi Medik pada
Kelompok Kerja Kanker FK-UI, 1986
- Anggota Kelompok Kerja Imunologi
FK-UI, 1986
- Anggota Sub Panitia Pemilihan
Penelitian Terbaik di Lingkungan FK-UI,
tanggal 6 Oktober 1987
- Anggota Sub Panitia Pemilihan
Penelitian Terbaik FK-UI tanggal 26
Januari 1988 .
- Tenaga Ahli Bidang Lupus
Erythematosus, 1988
- Anggota Kelompok Kerja Gerontologi
FK-UI, 1988
- Ketua Tim Inti Penyusun Konsep
Pembangunan Rumah Sakit "Cancer Centre"
S.K. tanggal 11 November 1988
- Anggota Sub Pokja Kanker Ginekologi
FK-UI tanggal 4 Januari 1989
- Anggota Penilai Program Doktor Pola
A dan Usulan Penelitian Untuk Penulisan
Disertasi Dalam Bidang Kedokteran 1990
- Anggota Tim Pra-Usulan Penelitian
Calon Peserta Program Doktor Terstruktur
Dalam Bidang I. Kedokteran, 1990
- Anggota Tim Pengurus Program Dokter
Terstruktur Khusus Metodologi Penelitian
Kelompok Klinis di FK-UI 1990
- Anggota Tim Kurikulum Program Doktor
Terstruktur dalam bidang I. Kedokteran
di FK-UI, 1990
- Anggota Tim Dokter Ahli Presiden RI,
1982.
|
|
This website has been funded by
|
|
This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia |
|
|
|
|